Minggu, 12 Juni 2016

Essay Yunuari Flaviana Gembo, 13115033



BETTER THAN HER

Memiliki seorang kakak perempuan yang sangat pintar bukanlah hal yang mudah bagi saya. Selama bertahun-tahun, saya harus hidup dalam bayang-bayangnya. Orang-orang terus membandingkan kami berdua dalam hal prestasi akademis. Awalnya saya tidak peduli karena menurut saya pada dasarnya setiap individu berbeda dan ikatan kekeluargaan tidak dapat menjamin adanya persamaan antara kami berdua. Namun ketika guru-guru dan bahkan kedua orangtua saya makin sering menegur saya karena tidak mampu menyamai langkah kakak saya, saya mulai tenggelam dalam frustasi.
            Hal yang saya syukuri sampai saat ini adalah bahwa saya tidak membiarkan rasa frustasi tersebut merusak kepercayaan diri saya. Meskipun kerap dipandang sebelah mata, saya yakin bahwa saya bisa mencapai prestasi yang jauh lebih baik dari kakak saya. Karena itu, saya memanfaatkan waktu saya sebaik-baiknya untuk belajar. Saya ingin membuktikan pada mereka bahwa saya bisa melakukan yang lebih baik.
            Usaha saya lambat laun mulai menunjukkan hasil. Nilai-nilai saya melesat naik dan membuat banyak orang terkejut. Tak hanya itu, saya juga berhasil merebut peringkat umum di sekolah. Banyak orang yang akhirnya mengakui bahwa saya mampu, tapi saya tahu bahwa masih banyak pula yang meragukan saya. Beberapa di antara mereka malah dengan terang-terangan mengatakan bahwa itu hanya sekedar keberuntungan saya semata. Hal ini membuat saya sadar bahwa jalan yang harus saya tempuh untuk membuktikan kemampuan saya masih sangat jauh.
            Kenyataan itu membuat saya berusaha lebih keras lagi. Saya membaca banyak buku untuk memperkaya ilmu pengetahuan saya. Saya juga tak segan bertanya pada para guru untuk memuaskan rasa ingin tahu saya yang semakin besar. Tanpa saya sadari, ambisi saya  untuk diakui telah mengantar saya menjadi pribadi yang jauh lebih baik dibanding sebelumnya.
            Melihat perkembangan saya dalam bidang akademis ini, para guru akhirnya mulai memberikan saya kepercayaan untuk mengikuti berbagai macam perlombaan. Puncaknya, saya dipilih untuk mewakili sekolah saya untuk mengikuti olimpiade biologi tingkat kabupaten. Saya menerima tanggungjawab tersebut dengan penuh syukur. Saya berjanji kepada diri saya sendiri untuk tidak menyia-nyiakan kepercayaan yang telah mereka berikan.
            Tiga minggu menjelang olimpiade menjadi minggu-minggu yang sangat berat bagi saya. Otak saya dipaksa untuk mengingat berbagai macam hal berkaitan dengan materi yang akan diujikan. Saya lelah, tapi enggan menyerah.  Saya yakin usaha saya tidak akan sia-sia.
            Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Bersama dengan guru pembimbing dan beberapa teman, saya berangkat menuju ke tempat dilangsungkannya olimpiade tersebut. Setibanya di sana, saya langsung diserang rasa gugup. Pikiran-pikiran negatif memenuhi otak saya saat melihat begitu banyak saingan yang akan saya hadapi. Beruntung guru saya memahami situasi tersebut dan memberikan kata-kata penguatan untuk saya dan teman-teman saya. Berkat kata-kata penguatan beliau, saya bisa mengerjakan soal-soal yang diberikan dengan tenang.
            Setelah hari itu, saya tidak bisa tidur dengan tenang. Saya dikuasai kecemasan akan hasil olimpiade tersebut. Tiap harinya saya berdoa agar bisa mendapat peringkat pertama. Rupanya Tuhan mengasihi saya. Tak lama kemudian, hasil perlombaan itu diumumkan. Saya berhasil menduduki tempat pertama setelah mengalahkan nilai-nilai dari puluhan peserta lainnya.
            Saya memandang kemenangan tersebut sebagai kesuksesan terbesar dalam hidup saya karena semenjak hari itu, tak ada lagi yang meragukan kemampuan saya. Semua orang akhirnya mengakui bahwa saya bisa menyamai kakak saya dan bahkan menjadi lebih baik darinya.
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar